Turning Point: When Logic and Faith Reclaimed My Worth
"Karena Sayang Tidak Seharusnya Membuatmu Tak Bernilai"
Pilihan aku untuk menyudahi hubungan di usia 26 tahun itu berat, tapi akan lebih berat jika aku terus mempertahankan sesuatu yang terlalu dipaksakan karna sudah pasti ending nya tidak baik dan bahkan menyakitkan.
Merendahkan value sendiri hanya untuk menyamankan value manusia yang kita sayang adalah suatu kebodohan yang aku lakukan, karna sayang dan cinta yang baik itu tidak akan membuatmu rendah dan tidak bernilai.
Semua berawal dari aku yang mulai memutuskan untuk putar balik dalam menerapkan nilai agama dan melibatkan Allah SWT dalam setiap jalan hidupku, karna Allah SWT menolongku dikala tidak ada siapapun yang bisa melakukannya selain Allah. Itu adalah hidayah terbesar yang aku rasakan, itu membuatku terus menangisi setiap menyadari kebesaran-Nya dan kemurahan-Nya dan sadar betapa sombong nya aku selama ini.
Aku sadar selama ini aku hidup jarang sekali melibatkan-Nya dalam setiap keputusan, peristiwa dll. Bergantung dengan manusia yang tidak berdaya bahkan tidak jarang diberikan rasa kecewa dan sakit. Padahal Allah SWT adalah sebaik-baiknya tempat berkeluh, bergantung dan meminta.
Aku mulai men-setting ulang prinsip hidupku, nilaiku, dan tujuanku.
Dulu aku berpikir menikah itu untuk bahagia, sekedar itu saja. Tapi ternyata itu pemikiran yang salah, aku melupakan posisiku sebagai hamba-Nya. Aku melupakan fakta bahwa 'Kita hidup di dunia yang fana ini hanya sementara, kehidupan abadi itu akan datang setelah dunia ini, dunia yang penuh fitnah dan godaan Shayatan'.
Dan aku berusaha menerapkan itu secara perlahan dan bertahap. Mulai dari men-setting ulang cara berpikir, bertindak, dan responku. Ini didukung dengan Therapys ku yang saat itu aku sedang dalam program pemulihan Anxiety, aku menceritakan segala keresahanku dan tujuanku. And she said:
"Nazilah pesan mbak satu, jika Nazilah sedang dalam tahap pengambilan keputusan besar. Tolong tinggalkan perasaan/emosinya dulu ya, gunakan logika Nazilah disaat itu."
Dan aku melakukannya.. tentu dengan proses yang sangat panjang untuk berada ditahap ini.
Dulu rasanya sangat mustahil, tapi sekarang aku bisa melakukannya dengan mudah. Therapys aku tidak pernah menyuruh aku untuk ini dan itu secara gamblang, tapi dia terus membantu aku untuk berpikir ulang.
Mana yang worth it, mana yang tidak.
Apa setelah menyelesaikan terapi itu aku berupa 360°? Jawabannya Tidak.
Aku masih memiliki banyak PR yang harus aku uraikan dan aku kerjakan.
Tapi apakah semua itu sia-sia dan tidak worth it? Jawabanya Sangat worth it dan tidak sia-sia.
Seperti yang sudah aku paparkan sebelumnya, disesi terapi ini aku diajarkan lagi bagaimana carannya berpikir yang sehat dan belajar lagi untuk mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Karna jika kita mencintai diri kita, akan mudah untuk kita menghormati diri sendiri dengan memilih sesuatu yang baik dan sesuai dengan value yang kita butuhkan.
-
Aku memutuskan untuk berhenti dihubungan 3 tahun ku, karna setelah melewati banyak konflik dan peristiwa menyadarkan aku bahwa 'Aku selalu berakhir disini ditempat yang sama, diperasaan yang sama'. Rasanya seperti jalan ditempat, tidak ada perubahan yang signifikan yang membuatku yakin bahwa ini worth it untuk dipertahankan.
Kenapa aku bilang berhenti bukan menyudahi? Karna sampai saat ini tidak ada kejelasan yang aku dapatkan dari dirinya tentang hubungan kami, apakah masih berlanjut atau tidak padahal chat terakhir kita baik-baik saja. Dan aku memutuskan untuk berhenti berjuang, berhenti mengusahakan ketika dia juga tidak menunjukan usaha apapun.
Terakhir kali aku meminta dirinya untuk konsultasi ke psikolog, bukan karna dia sakit. Aku hanya ingin dia lebih aware dengan sekitarnya, belajar untuk mengenal dirinya dan mencintai dirinya, karna hal yang aku sadari adalah dia seperti itu bukan karna dia jahat tapi dia hanya tidak tau sebagaimana yang harus dia lakukan dan dia tidak tau apa tujuan hidupnya.
Aku berpikir untuk mem-booking sesi konsul untuk dia (Setelah melalui puluhan perdebatan mengenai ini dia mau dan meminta aku melakukannya), tapi setelah aku pikir ulang rasanya ini salah besar. Kenapa? Karna indikasi keterpaksaan dari dirinya membuat aku khawatir tidak ada kesungguhan dari dirinya, pada akhirnya semua sia-sia.
Untuk mendapatkan hasil yang baik dari konsultasi ke psikolog/psikiater itu adalah kesadaran diri, tanpa ini semua akan jadi omong kosong. Karna ketika kita memutuskan untuk pergi ke Ahli Jiwa, berarti kita siap untuk membuka diri kita sebesar mungkin dan sejujur-jujurnya.
Aku mengenal dia sebagai seseorang yang sangat tertutup bahkan cenderung sangat menutupi kekurangannya, itu yang membuat dirinya sulit menerima bahwa sikapnya menyakitkan untuk orang lain terutama pasangannya.
Aku mengurungkan niatku dan memutuskan untuk fokus dengan diriku sendiri.
-
Ramadhan selalu hadir dimomen dimana kita sangat membutuhkannya.
Aku memutuskan untuk fokus mensucikan jiwaku dan memperketat imanku di Ramadhan tahun ini, dalam keadaan tidak ada lagi komunikasi dengannya.
Semua ini terasa mudah, karna Allah SWT selalu memudahkan hamba-hambanya yang ingin kembali kepada-Nya.
Bentuk rezeki yang kudapati ditahun ini adalah seorang teman yang mendukungku untuk menjemput hidayah yang Allah SWT kasih, dia rekan kerja ku. Bersamanya aku merasakan kebebasan dalam berbicara dan berpendapat, karna dimasa ini sulit sekali bertemu seseorang yang bisa kita ajak bicara/diskusi soal kepercayaan. Kebanyakan orang akan merasa tidak nyaman karna agama adalah area private.
Dia juga sangat membantuku untuk tetap berada dijalanku, ketika aku hampir belok dia membantuku menarik setir untuk kembali kearah tujuanku. Kadang dengan cara yang halus, kadang dengan cara yang agak keras. Tapi memang itu yang aku butuhkan, aku selalu bersyukur dan menangisi rezeki yang terus menerus datang kepadaku. Dan dia adalah bentuk rezeki yang paling aku syukuri, aku berdoa semoga hubungan kita bukan hanya sekedar rekan kerja, semoga kita tetap selalu berteman baik dimana pun kapan pun.
Di Ramadhan tahun ini aku merasakan banyak hal baru yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, seperti nikmatnya beribadah, bergantung segalanya ke Allah SWT, dan bersemangat untuk mencetak amalan-amalan baik.
Hatiku hancur ketika sadar bahwa Ramadhan akan meninggalkan kita, dan rasanya kita masih belum maksimal dalam menjalankan ibadah dibulan ini. Wallahu Alam.. Semoga Allah SWT menerima segala bentuk ibadah kita dan kita termasuk orang-orang yang berada di jalan-Nya.
-
Dari segala hal yang aku ubah dan aku susun ulang, aku mendapati bahwa yang aku butuhkan bukanlah yang selama ini aku jalani. Dan tidak ada salahnya dalam menerapkan value diri dan batasan dalam kehidupan ini.
Dulu salah satu kekhawatiranku jika aku membangun hubungan menggunakan jalan Allah atau Agama adalah sudah pasti mendapati pasangan patriatki dan berpoligami dengan menggunakan dalil agama, itu membuatku enggan untuk memilih laki-laki yang terlalu agamanis.
Dan sekarang aku sadar bahwa itu Kesalahan dalam berpikir, itu juga salah satu bentuk bahwa aku sudah menyalahi takdir Allah dan berprasangka buruk kepada-Nya. Lalu Allah SWT menyadarkan aku dengan mempertemukan aku dengan seseorang yang secara duniawi itu sangat aku inginkan dan idamkan, tapi setelahnya Allah SWT memberikan aku rasa kecewa dan sakit yang luar biasa terus menerus rasanya seperti sedang menunjukan bahwa prinsip yang selama ini aku percayai dan aku gunakan salah besar.
'Kamu lihat zila, apa yang kamu pilih berdasarkan prasangka mu itu juga yang membuat kamu terus menerus memberikan rasa sakit.'
Walaupun aku sudah sangat detail dalam memilih, ternyata jika didasari kesombongan diri itu tidak akan berakhir baik.
-
Sekarang aku sudah memutuskan untuk merubah pola ku dan prinsipku, yang dulu selalu menyalahkan dan berprasangka buruk kepada takdir Allah SWT menjadi percaya bahwa Allah SWT adalah sebaik-baiknya perencana.
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya" Q.S 2:286
Mulai membentuk kepercayaan bahwa rencana-Nya jauh lebih indah, dan takdir Allah SWT itu indah dan tidak pernah salah.
Sincerely, Nazilah.
Monday, March 23rd 2026

Komentar
Posting Komentar