Alasan untuk jangan terlalu mengidolakan manusia.

 PERINGATAN DARURAT.



Ya.. 

Darurat.

Pertama mungkin ini adalah kali pertamanya bagiku menulis tulisan berbau politik, selama aku menulis di blog. Alasannya karena aku selalu merasa bahwa aku tidak berkapasitas untuk menulis hal-hal seperti ini, atau mengajarkan seseorang tentang politik. Aku tidak pernah belajar tentang hukum/politik secara baku, aku hanya belajar melalui membaca artikel/jurnal dan berdiskusi dengan banyak orang yang tentu beberapa memiliki pola pikir yang berbeda.

Dan hari ini, aku hanya ingin mengingatkan perihal 'Alasan (kita) untuk jangan terlalu mengidolakan manusia' entah siapa pun itu, Influencer, Aktris/Aktor, sampai Tokoh Politisi dan sejenisnya.

Kenapa?

Pertama ranahnya manusia itu sering kali melakukan kesalahan, dan itu wajar. Kesalahan yang tidak wajar adalah ketika seseorang tahu bahwa ia telah melakukan kesalahan, namun ia tidak lantas intropeksi diri tentang kesalahan yang ia perbuat, juga dampak yang ia sebab kan.

Lalu apa hubungannya dengan mengidolakan para tokoh itu?

Jika kita terlalu mengidolakan seseorang, rasionalitas dan objektivitas itu kemungkinan besar akan hilang. 

Kenapa rasionalitas bisa hilang? 

Kuncinya adalah karna kita mengidolakan orang tersebut, dan ketika kita mengidolakan seseorang dengan terlalu, maka tanpa disadari rasa kecintaan itu tumbuh (Lols maaf jika terdengar berlebihan) dan kalian pasti sering mendengar istilah 'Cinta itu buta', ya sekiranya itu contoh sederhana yang bisa aku pakai.

Mau seburuk apa pun orang tersebut, mau sesalah apa pun orang itu, sebab akibat yang dihasilkan. Seseorang yang telah mengidolakan/mencintai akan merasa bahwa itu bukan suatu masalah besar, dan bahkan membela/membenarkan semua tindakan orang yang ia idolakan itu. Tanpa memikirkan ulang kebenarannya dan dampak yang dihasilkan, itulah momen ketika rasionalitas/objektivitas menghilang.


Lalu apa hubungannya dengan isu politik?


Pasti masing-masing dari kita bisa melihat dari mata kepala kita sendiri, tentang banyaknya orang yang mengidolakan bahkan mengagungkan sosok tokoh politisi di negara ini. Dan tidak sedikit orang yang saling berdebat, bahkan terpecah belah untuk membela politisi idolanya masing-masing.

Padahal politik itu Dinamis.

Terutama untuk di Indonesia sendiri, mungkin tidak jarang pula kita melihat tingkah para politisi dan partai yang di luar ekspektasi kita. Karena semua ini tentang kepentingan, yang dahulu saling berseberangan bisa jadi bersatu, yang dahulunya bersatu bisa jadi berseberangan. Begitulah cara kerjanya..

Ketika hal itu terjadi, sebagai warganegara yang mencintai negaranya, yang perlu kita lakukan ialah menjaga agar negara ini tetap berjalan sesuai dengan semestinya. Dengan cara selalu berpikir rasional dan objektif untuk mengawal para petinggi di Negeri ini, agar mereka dapat bekerja dengan baik. Kembali ke poin sebelumnya, politik itu Dinamis adakalanya para petinggi melakukan kesalahan dan membuat keputusan yang tidak sesuai dengan yang semestinya.

Dengan pola pikir yang rasional dan objektif akan membantu kita untuk membuahkan buah pikir yang lebih baik, tanpa memikirkan kepentingan pribadi, menguntungkan satu pihak, dan dengan cara ini pula akan membantu kita untuk terbuka dengan masukan baru. 

Berbeda dengan seseorang yang memiliki kecondongan yang terlalu besar ke suatu kelompok, mereka hanya akan memikirkan sesuatu yang akan menguntung kan bagi kaum mereka.




Komentar